XtGem Forum catalog

KIDUNG SENJA
DENING : Mas Mulyadi S.Pd


Sang Bagaskara mengundurkan diri ke balik puncak bukit sebelah barat, mengakhiri tugasnya sehari penuh di bagian bumi sebelah sini dan mulai menunaikan tugasnya di bagian bumi sebalah sana. Surutnya sang raja siang masih meninggalkan bekas kebesarannya. Langit di barat dibakarnya, menjadi hamparan merah dihias awan putih di sana-sini, di seling warna biru di antara sinar redup keemasan. Senja di Pegunungan Lawu amatlah indahnya, indah dan agung, bukti kekuasaan, kebesaran dan keagungan Sang Maha Pencipta.

Tiga ekor kerbau melangkah santai melintas padang rumput, ayem dan senang karena perut mereka kenyang, menuju pulang kandang. Perasaan mereka seolah hanyut oleh lengking suling yang ditiup anak laki-laki yang duduk di punggung kerbau terbesar yang berjalan di depan. Lengking yang lembut dengan lagu Dandanggula yang sederhana, namun suara itu menjadi suci karena menyatu dengan keadaan, seolah menjadi bagian tak terpisahkan dari alam di senja itu. Lengking suling dalam lagu Dandanggulo tanpa kata itu, membangkitkan perasaan trenyuh dan nglangut dalam hati para pendengarnya. Hati mengikuti irama tembang dan bersenandunglah mereka itu dalam tembang masing-masing, mengikuti irama suling, lagunya Dandanggula.

Suara suling terbawa angin, sayup-sayup terdengar oleh seorang dara yang sedang sibuk di dapur sebuah rumah terpencil di luar dusun Sintren. Mendengar lengking suling itu, ia tersenyum dan sambil mencuci beras yang hendak di tanaknya, ia pun bersenandung dalam tembang Dandanggula, mengikuti irama suling.

“Sipat iman, mantu bilahi,
tegesipun pracaya mring Allah,
Mring Pangeran sejatine ya pangeran kang agung
kang akarnya bumi dan langit
angganjar lawan niksa mring manungsa sagung
langgeng tur murba misesa
Maha Suci angganjar paring rejeki, aniksa angapura.”
”Weladalah! Sekarang sudah lewat maghrib, kok ngliwet sambil rengeng-rengeng. Apa engkau sudah sholat, cah ayu?”

Dara yang menanak nasi, menembang dan melamun itu tadi terkejut ketika tiba-tiba ditegur ayahnya. Ia menoleh sambil tetap berjongkok menghadapi api kayu bakar yang berasap, memandang pria setengah tua itu dan berkata, lembut akan tetapi kenes.

”Aduh, bapa membikin kaget saja. Aku sudah sembahyang tadi, bapa.” Ia melanjutkan pekerjaannya.

Sejenak pria berusia lima puluhan tahun itu mengamatinya, mengangguk-angguk dan tersenyum. Dapur itu sudah remang-remang, akan tetapi cahaya api menyinari muka si dara, membuat wajah itu nampak kemerahan seperti disepuh emas, dan rambut yang hitam panjang digelung sederhana, dengan sinom awut-awutan dan melingkar-lingkar di dahi, menjadi cantik jelia. Kakek itu menghela napas panjang penuh kebahaggaan dan batinnya mengucap syukur kepada Tuhan yang telah memberkahinya dengan seorang gadis seperti Mawarsih.

”Mawar, bagaimana engkau masih dapat kaget? Engkau memiliki aji kanuragan, digdaya dan pandai membela dan melindungi diri sendiri, engkau beriman, percaya kepada kekuasaan Allah, berarti engkau sudah kuat lahir batin. Kenapa mudah terkejut?”

”Aih, siapa yang tidak kaget? Aku sedang melamun, tiba-tiba saja bapa muncul dan menegur.” gadis itu membela diri.
”Ha-ha-ha, kiranya tadi engkau sedang asyik. Tangan bekerja menanak nasi, mulut berdendang menembang Dandanggula, dan pikiran melamun entah melayang ke mana! Jangan membiasakan diri melamun, anakku yang manis, melamun itu membuka pintu masuknya setan. Hemm, agaknya engkau melamun karena peristiwa tiga hari yang lalu itu, bukan?”

Tangan itu berhenti menggerakkan irus mengaduk beras. Setelah menutupi kuali tempat menanak nasi, gadis itu menghadapi ayahnya yang sudah duduk di atas bangku bambu. Ia sendiri masih duduk berjongkok di atas dingklik (bangku pendek). Sepasang alis yang panjang hitam dan kecil melengkung itu berkerut. Mawarsih mengenang kembali peristiwa tiga hari yang lalu. Ketika itu, datang dua orang tamu yang sudah amat dikenalnya, karena mereka adalah paman gurunya, yang tinggal di kaki Gunung Lawu sebelah timur. Ki Danusengoro adalah adik seperguruan Ki Sinduwening ayahnya, dan Ki Danusengoro mempunyai seorang murid pria bernama Brantoko. Kunjungan kedua orang yang sudah dikenalnya itu tentu saja diterima dengan gembira oleh Mawarsih dan ayahnya, disuguhi minuman dan jadah ketan yang kebetulan masih ada.

Ki Danusengoro berusia lima puluhan tahun, sebaya dengan Ki Sinduwening, bertubuh pendek gemuk, kumis dan jenggotnya jarang dan tubuhnya kacau, membuat wajahnya nampak aneh dan menyeramkan. Muridnya, Brantoko adalah seorang pemuda berusia dua puluh tahun yang berwajah tampan, bertubuh tinggi besar dan dia telah mewarisi ilmu-ilmu yang tangguh dari gurunya sehingga di daerah Lawu dia terkenal sebagai pemuda yang digdaya. Akan tetapi, ada beberapa hal yang mendatangkan perasaan tidak suka dalam hati gadis itu terhadap saudara seperguruannya, yaitu pandang matanya yang penuh gairah kepadanya dan sikapnya yang tinggi hati dan mengagulkan keopandaian sendiri. Namun, perasaan ini dipendamnya dalam hati saja, dan ia memperlihatkan sikap gembira dan ramah ketika menyambut Ki Danusengoro dan Brantoko.

Akan tetapi setelah dua orang tamu itu makan dan minum sekedarnya dan saling tegur sapa menanyakan keselamatan masing-masing, Ki Danusengoro memberitahukan maksud kunjungannya yang amat mengejutkan hati Mawarsih, yaitu mereka datang untuk melamar! Ki Danusengoro meminang Mawarsih untuk dijodohkan dengan Brantoko!

Ki Sinduwening menyambut pinangan itu dengan sikap tenang, kemudian menjawab bahwa dia dan puterinya te